Nulis Keroyokan, Komunitas KutuBuku Jalannya

464 Viewed
Logo Komunitas KutuBuku (Kompasianer Ulas & Tulis Buku). (Foto: KutuBuku)

Logo Komunitas KutuBuku (Foto: KutuBuku)

Menerbitkan buku bagi sebagian orang masih menjadi impian. Namun, masih tak sedikit yang masih hanya sebatas impian saja. Karena belum ada tindak lanjut untuk mewujudkannya. Dan bahkan menulis pun hanya kalau sempat.

Terkadang, untuk memulai menulis satu lembar saja terasa sulitnya minta ampun. Apalagi fokus membuat buku yang berlembar-lembar. Berapa karakter harus disusun, serta berapa kali harus di edit. Dan yang paling penting, data-data pendukung yang disiapkan, agar tulisan menjadi lebih berisi. Tidak asal tulis maupun asal comot.

Sesekali saya dinasihati teman yang dulunya bekerja sebagai wartawan dan sekarang menjadi salahsatu public relation sebuah perusahaan swasta, bahwa membuat buku tidak hanya asal menulis, mencetak, kemudian mengedarkannya. Lebih jauh, bisakah buku yang diterbitkan tersebut mampu, layak dan manfaat untuk menjadi referensi karya yang lain.

Beruntung bagi yang bergabung dalam Komunitas Peniti Media besutan kang Thamrin Sonata (saya lebih akrab saya panggil kang TS). Sebuah komunitas yang tergabung dalam Kompasiana ini, sejak 03 Nopember 2015 berubah nama menjadi Komunitas Kutubuku (Kompasianer Ulas dan Tulis Buku).

Sebuah komunitas yang mengajak, khususnya kepada anggotanya agar dapat terus bersemangat dalam menyusun literasi menjadi sebuah buku yang baik dan layak konsumsi untuk berbagai macam generasi.

Dan apabila hendak menerbitkan buku keroyokan, di Komunitas Kutubuku ini penulisnya berasal dari berbagai wilayah yang tersebar didalam maupun luar negeri. Tentu saja dengan latar belakang yang berbeda, baik dari segi usia, adat, pendidikan maupun pekerjaan. Sehingga menjadikan buku keroyokan ini sarat akan rasa dan warna.

Buku keroyokan yang diterbitkan oleh Peniti Media yang saya terima, antara lain 36 Kompasianer Merajut Indonesia (2013), 25 Kompasianer Wanita Merawat Indonesia (2014), Pancasila Rumah Kita Bersama (2014), Refleksi 70 Tahun Indonesia (2015), dan yang masih hangat digenggam adalah buku Indonesia Kita, Satu (2015).

merdeka-itu-bisa-ngeksis

Salah satu buku Antologi: Refleksi 70 Tahun Indonesia (Foto: Dokpri)

 

lihat-buku-ya

Salah satu buku Antologi: Indonesia Kita, Satu (Foto: Dokpri)

Yang pasti, dengan menerbitkan buku secara keroyokan, akan mampu memompa semangat kita untuk dapat berkarya lebih baik lagi. Terima kasih pak TS yg sudah bersabar dalam menunggu dan menyemangati saya serta merangkai tulisan saya yg masih amburadul dan acakadul hingga layak dilahap pembaca. Benar memang, berteman dengan pak TS, merupakan anugerah terindah dari kompasianer, khususnya yang tergabung dalam Komunitas Kutubuku.

Bahkan, pak Tjiptadinata Effendi pun pernah memberikan perumpamaan bagaimana kerja pak TS yang mampu membangun seribu candi hanya dalam satu malam.

Akhirnya, untuk incaran buku yang baru saja diterbitkan Peniti Media dipenghujung tahun antara lain: Mandeh Aku Pulang (Om Iskandar Zulkarnain), Sehangat Matahari Pagi (Opa Tjiptadinata Effendi), dan Bukan Jalan-jalan Biasa (Om Taufik Uieks).

Pendidik, Antara Pengabdian dan Pekerjaan

Kuliah, Emang Enak!

Related posts
Your comment?
Leave a Reply