Modal Awalnya Dari Sedikit dan Kesabaran

2318 Viewed

Siapa yang tidak ingin berbisnis. Ada yang mengawali bisnis dengan modal yang besar, meskipun modalnya pinjam bank ataupun pinjam kanan kiri. Akan tetapi ada juga yang memang mengawali bisnis dengan modal uang dari hasil tabungan yang telah dikumpulkan beberapa tahun.

Akan tetapi, ada yang mengawali bisnis dari sedikit demi sedikit. Seiring berlalunya waktu dan kesabaran dalam menjalaninya, modalpun bertambah. Banyak yang bisa dijadikan contoh disekitar, yang modal awalnya hanya sedikit, sekarang menjadi besar.

Sebut saja Mbak Ning, dulu langganan kami untuk beli baju buat anak. Dulu dia berjualan baju didepan kios salah satu pasar di Kudus. Seiring berjalannya waktu, bahkan kurang dari 2 tahun, Mbak Ning sekarang sudah memiliki kios sendiri di pasar tersebut. Dulu kamipun tahu berapa jumlah barang (pakaian) yang dijajakannya.

Ada lagi, bisnisnya sama dengan Mbak Ning. Tetapi ini lebih besar. Siapa yang menyangka kalau (sebut saja) Pak Haji nama sebelum haji adalah (sebut saja) Ahmad, dulunya adalah seorang penggembala kambing. Setelah menikah, Ahmad menggembala kambing dan istri dirumah menerima jahitan. Berjalannya waktu, pesanan semakin banyak. Pak Ahmad dan istri merasa kewalahan, diputuskanlah untuk merekrut satu pegawai (yang juga tetangganya). Sebut saja Uswah namanya.

Seiring berjalannya waktu-pun usahanya berkembang. Yang awalnya satu pegawai, menjadi 3, 5, 10 dan semakin berkembang. Pak Haji dan Bu Hajjah sekarang sudah memiliki beberapa kios di pasar. Anak-anaknya pun mewarisi usaha yang dirintis Pak Haji dan Bu Hajjah.

Lantas apa yang terjadi dengan pegawai pertamanya (Uswah)? Uswah sekarang-pun membuka usaha sendiri menerima jahitan di rumahnya. Sungguh luar biasa…

Contoh sekali lagi. Pak Selamet, pengusaha sablon. Dulu, awal berdirinya dia kerjakan sendiri semuanya. Mulai dari desain, beli bahan, pengerjaan, penjualan, sampai mengantar ke konsumen-pun ia jalani. Sekarang, dia sudah memiliki sekitar 4 anak buah. Pak Selamet-pun sekarang masih menganggap usahanya belum sukses.

Sebagian besar dari mereka memberikan pesan kepada pengusaha muda agar senantiasa sabar dalam berbisnis, selalu aktif dan kreatif. Mencoba mencari ide-ide baru, dan yang pasti jangan mudah lelah untuk belajar.

Salute untuk Pak Selamet, meskipun usianya sudah sepuh, dan dari pandangan pertama saja, beliau orangnya ya hanya fokus pada pekerjaan. Tetapi setelah berbicara dengan beliau, “Sekarang pesanan sablon saya banyak mas, tidak hanya dari sekitar. Ada yang dari luar kabupaten bahkan ada yang dari luar pulau (Kalimantan-red)”. “Konsumen cukup mengirim gambar melalui email… (deg.. sontak pandangan diriku kepada Pak Selamet berubah)… lalu tinggal aku cetak dan aku kirim”, jelasnya.

Bagaimana tidak kaget, saat beliau bilang “mengirim gambar melalui email“. Kalau lewat BBM, masih bisa dimaklumi. Mengingat usianya yang sudah sepuh dan kesibukannya dalam mengurusi bisnis, masih sempat-sempatnya beliau mempelajari email.

Memang benar, teknologi diciptakan sebagai alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Pengusaha dituntut untuk lebih bersabar, khususnya saat situasi sedang tidak berpihak. Banyak pengusaha yang tidak dapat bertahan, hanya karena kurang kesabarannya dalam menghadapi perubahan hidup. Akhirnya, seleksi alam pun terjadi. Yang bertahan-lah yang akan hidup, sedangkan yang hanya sekedar hidup akan mati secara perlahan.  (Kudus, 16/05/2014)

News Feed
prev-next.jpg

Selesaikan Dulu Satu Persatu

prev-next.jpg

Pernikahan Teman Sejawat… Akhirnya

Related posts
Trackbacks/Pingbacks
  1. Ide Memulai Bisnis: Dari Yang Paling Disukai dan Tidak Disukai - 3 June 2014

    […] anda yang belum mengawali bisnis atau baru akan sedang memikirkan bisnis apa yang paling cocok. Sedang galau menimbang-nimbang mau […]

Leave a Reply