Kompasianer Bicara Centang Biru

326 Viewed

 

(ilustrasi: kompasiana.com)

(ilustrasi: kompasiana.com)

Centang biru, label baru yang disematkan untuk Kompasianer. Centang biru mulai diujicobakan fitur dan mekanisme untuk verifikasi konten. Sebuah tanda yang mulai diperkenalkan pekan ini, tepatnya 13 Oktober 2014.

Namun, artikel yang dipublish oleh admin tersebut, ada yang mengomentari bahwa “ADMIN Kayak kurang kerjaan nih… padahal kerjaan banyak tuh..error kompasiana kagak beres melulu dari dulu… kalau kriteria diatas,mendingan masukan aja artikel mereka ke HL,TA atau apa aja dah yg biasa dikerjain sama admin selama ini”. Hal tersebut senada dengan opini Yuni Cahya dalam Betapa Detailnya Kompasiana.

Label baru tersebut, sedikit banyak telah memberikan “warna baru” dalam Kompasiana. Namun, terkesan ada pembagian kelas-kelas atau strata bagi Kompasianer. Seperti yang disampaikan Pak Giri Lumakto dalam tulisannya Verifikasi Biru Akun Kompasiana adalah Sistem Kasta. Sehingga penulis di Kompasiana sudah terbagi menjadi 3 jenis.

Yang pertama, penulis TANPA CENTANG. Adalah penulis yang belum terverifikasi akun kompasiana. Untuk menjadi penulis di Kompasiana, ya harus mendaftar terlebih dahulu di blog keroyokan ini. Yang kedua, penulis dengan CENTANG HIJAU. Adalah penulis yang telah terverifikasi akun kompasiana, untuk mendapatkannya harus melakukan verifikasi akun. Dan yang terakhir, penulis dengan CENTANG BIRU. Adalah akun yang telah terverifikasi hijau dan terverifikasi kontennya.

Pebriano Bagindo juga membagi Kompasianer menjadi 2, akibat adanya label baru centang biru. Kompasianer Tradisional atau Kompasianer Militan dan Kompasianer Mengambang. Lantas, bagaimana agar bisa tercentang biru? Dalam artikelnya ia memberikan tips bagaimana mendapatkan peluang verifikasi biru dengan judul Verifikasi Biru Membentuk Kompasianer Spesialis?

Tak jarang, ada Kompasianer yang memplesetkan centang biru dengan hal-hal yang lain. Antara lain, centang biru menjadi tenda biru. Seperti Umar Zidans dengan Verifikasi Biru Dessy Ratnasari-nya.

Dengan adanya centang biru Kompasiana, Indira Revi berharap agar admin dapat menulis artikel mengenai verifikasi biru yang lengkap. Ditekankan lagi, agar jangan sampai admin memberi centang biru bagi seorang penulis yang dia sendiri tidak nyaman dengan centang biru tersebut.

Lain lagi dengan Noval Ruslans, yang menginginkan agar centang biru kompasiana harus bisa dipertanggungjawabkan secara profesional dalam proses pemilihannya, sebagaimana di kutip dalam tulisannya Verifikasi Biru, Lingkaran Biru dan Bajaj Biru.

Tak seperti yang lainnya, Bunda Lizz. Salah satu K’er yang sudah terverifikasi biru, justru enggan mendapatkan label “biru”. Hal itu sebabkan, agar Bunda Lizz lebih leluasa dapat menulis apa saja, tanpa terikat dengan tanggung jawab label yang diperoleh. Hal itu ditulis nan apik dalam bentuk puisi yang berjudul Balada Centang Biru.

Manfaat adanya centang biru, menurut Mbak Utami telah dipaparkan dengan 4 manfaatnya. Tapi, menurut pendapat saya pribadi, dengan adanya centang biru, admin bekerja lebih ringan. Hal itu dikarenakan tulisan atau konten yang dibuat oleh Kompasianer yang tercentang biru, dapat dikatakan telah “lolos sensor“.

Tetapi yang pasti, dengan atau tanpa centang (baik hijau maupun biru), Kompasiana adalah etalase warga biasa. Saya pribadi banyak belajar membaca dan menulis dari “Perguruan Kompasiana”. Seperti pendapat om Felix, dengan atau tanpa tanda centang — baik hijau maupun biru — kemampuan menulis Kompasianer lebih baik dibanding pertama kali bergabung dengan Kompasiana.

Salam Kompasiana dan Happy Weekend.

Tidak Bisa, Apa Tidak Mau

Ternyata, Hanya Ini Warisan SBY

Related posts
Your comment?
Leave a Reply