Ketika KPK dan Polri di Warung Kopi

624 Viewed
14221396201463199137

Ilustrasi KPK dan Polri | gambar: okezone.com |

Penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto oleh Polri kemarin hari Jum’at, 23 Januari 2015 mau tidak mau membuat masyarakat Indonesia ramai mempergunjingkan peristiwa tersebut.

Bahkan hastag #SaveKPK pun sempat menjadi trending topic. Hal itu tidak luput dari peran media yang begitu gencar mengekspos pasca penangkapan.

Dan kita pun tidak perlu susah-susah mencari informasi terkini. Baik itu televisi, surat kabar, facebook, twitter, bahkan media online (seperti web-blog) banyak yang mengupas kejadian KPK dan Polri tersebut. Saling berebut mau membuktikan juga bahwa saya yang pertama kali mendapatkan berita tersebut.

Termasuk di Kompasiana, ternyata banyak tulisan Kompasianer yang bertengger membahas perihal penangkapan tersebut. Tak mau ketinggalan, KompasianaTV akhirnya tampil dengan tema penangkapan BW.

Saya pribadi –terus terang– kemarin saya mengikuti perkembangannya di televisi. Sampai-sampai mandi pun kemalaman karena eman-eman jika ketinggalan berita tersebut.

Meskipun BW akhirnya hanya diperiksa, tidak jadi ditahan, tapi hanya dilakukan penangguhan penahanan. Namun, rakyat sudah terlanjur diberi tontonan gratis bagaimana sepak terjang KPK dan Polri di Jum’at Keramat tersebut. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau harus dimakan. Kira-kira seperti itu perumpamaannya. Rakyat sudah terlanjur melihat, mau tidak mau harus ikut membahas.

Akibatnya sepanjang hari kemarin (Sabtu, 24/01/2015), beberapa orang yang saya temui baik itu di kantor, maupun di warung kopi, bahkan seorang penumpang yang duduk santai di dalam angkot tampak serius nan antusias membicarakan KPK dan Polri.

Beberapa omongan dari warga yang saya dengar kurang lebih seperti ini.

1. Kalau seandainya BW memang bersalah, cara nangkepnya jangan gitu donk. Kayak nangkep bandar narkoba saja. Polisi perlu banyak belajar dari KPK bagaimana cara nangkap pejabat negara yang jadi tersangka.

2. BG yang sudah ditetapkan tersangka saja tidak langsung ditangkap KPK. Lha ini, BW baru saja ditetapkan tersangka kog langsung tangkap main seruduk aja. Coba liat tuh kasus-kasus rakyat kecil yang sudah tahunan nggak kelar-kelar.

3. Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Tidak mungkin BW ditangkap Polisi, jika BG tidak dijadikan tersangka oleh KPK.

4. Polisi sudah kebingungan mencari titik celah KPK. Dia tidak bisa mencari kasus yang besar, sehingga kasus kecil dipermasalahkan sebagai bukti adu kuat dengan KPK.

Dan yang menariknya lagi, tidak hanya KPK dan Polri yang jadi bahan omongan, sang Pelapor (Sugianto Sabran) pun terseret juga dalam debat kusir para penumpang di angkot yang saya naiki kemarin  sore.

5. Dari sisi psikologis, si Sugianto sudah kelihatan kog kalau dia itu tertekan. Buktinya, dia ‘ngobral‘ sumpah saat diwawancara oleh wartawan. “Demi Allah, Demi Rosul, dan Demi Bapak Ibu Saya“. Orang yang sering mengobral sumpah, layak dipertanyakan sumpahnya. Ditambah lagi bicaranya, “Kalau saya salah, silakan tangkap saya. Paling-paling saya akan dipenjara“. Seakan-akan dia sudah tahu dan siap dengan resiko terburuk akibat dari laporannya.

Khusus untuk point nomor 5, saya pun mencoba mencari video rekaman wawancara di youtube. Karena, telinga saya masih asing saat mendengar nama Sugianto Sabran. Dan, akhirnya ketemu juga disini.

Sekali mendayung, dua pulau pun terlampaui. Dan ternyata Sugianto Sabran pernah menjadi suami dari artis Ussy Sulistyawati. Videonya disini.

Tulisan ini tidak perlu dianggap serius. Masalah benar atau tidaknya omongan warga tidak usah ditanggapi apalagi sampai memicingkan mata. Toh hanya omongan warga yang tak jelas, yang tak punya dasar, dan yang pasti entah berpendidikan atau tidak. Memetik pelajaran yang disampaikan Pak Nararya pada tulisan Taktik Umpan “Ikan Merah”: Swaito, Hasto, dan Samad, bahwa kredibilitas si pemberi testimoni serta kredibilitas testimoni yang dibicarakan, patut diperhitungkan

Agaknya, obrolan tersebut secara garis besar mendukung KPK. Dan yang pasti, sekali lagi, rakyat sudah terlanjut diberi tontonan gratis oleh aparat negara. Kalau aparat boleh bertindak, maka bolehlah rakyat bicara.

Jujur. Sebenarnya saya tidak tertarik untuk menulis masalah KPK dan Polri. Karena saya tidak paham betul masalahnya. Akan tetapi, akhirnya saya pun ikut menulis tentang KPK dan Polri. Makanya saya menulisnya “KPK dan Polri“, bukan “KPK VS Polri”

Ya.. mungkin karena gerah, telinga pun sudah eneg rasanya mendengar omongan kanan dan kiri. Yang sejak pagi sampai malam ini kog bahasannya masih saja KPK dan Polri. Sudahlah… seperti tidak ada topik yang lain saja.

Kalau saya boleh berpesan, asal ngomong boleh saja, asal ada bukti. TAPI kalau kerja, jangan asal kerja. Nanti kau beri makan apa anak istrimu.

News Feed

Kangen OVJ (Opera Van Java)

Jokowi Berkunjung ke Kudus, Tak Takut Lengser?

Related posts
Trackbacks/Pingbacks
  1. Kasus KPK dan Polri, Pengalihan Isu Renegosiasi Freeport? - 29 January 2015

    […] pembicaraan masalah KPK dan Polri hampir sama dengan apa yang pernah aku tulis dengan judul “Saat KPK dan Polri di Warung Kopi“. Dalam obrolan tersebut ada sedikit yang menarik perhatianku. Yaitu tentang pengalihan isu […]

Leave a Reply