Kartini Kuliah Setelah Menikah, Mengapa Tidak!

1461 Viewed

“Entah akan berkarir atau berumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.” – Dian Sastrowardoyo *)

Begitu kira-kira motivasi bagi seorang ibu yang bersusah payah mengenyam jenjang perkuliahan.

Sebenarnya, saya sangat salut dengan ibu-ibu yang mau melanjutkan kuliah. Apalagi jika sudah menikah dan memiliki anak yang masih balita. Ditengah-tengah kesibukannya mengurus anak dan keluarga, ia masih harus berjibaku dengan tugas yang diperoleh dari kampus.

Disadari atau tidak, ibu muda yang masih kuliah harus dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Baik itu dari teman-teman kuliah maupun dari keluarga besarnya, terlebih dukungan dari suaminya.

Tak jarang, saya lihat beberapa teman saya yang masih aktif kuliah, anak meteka justru diasuh oleh sang ayah maupun oleh kakek-neneknya. Meskipun, tak jarang karena kesibukan anggota keluarga yang lain, sehingga anak pun dititipkan di TPA (Tempat Penitipan Anak).

Memang semua pihak harus saling menyadari. Belum lagi jika menjelang masa ujian. Berbagai macam tugas harus diselesaikan. Sedangkan di rumah, suami dan anak masih memerlukan perhatiannya.

Jangan anggap remeh ibu-ibu muda yang masih mau kuliah. Mereka adalah manajer yang tangguh. Manager yang pandai mengelola tenaga, waktu, dan pikiran antara keluarga dan kuliah.

Saya kira level salut saya akan sedikit berkurang, apabila yang kuliah adalah sang ayah. Karena kebiasaan sang ayah, lebih senang ‘pasrah bongkokan’ untuk urusan rumah kepada istri. Yang penting, kebutuhan bulanan tercukupi. Urusan keluarga yang lain biar diurus sang istri. Mulai dari masalah anak, kebersihan rumah dan pembayaran atas kewajiban lainnya.

Jadi, bagi yang belum menikah, seyogyanya optimalkan waktu yang dimiliki. Beruntung sekali, karena belum memiliki tanggung jawab seperti ibu-ibu muda yang masih kuliah sekaligus berkeluarga.

Bagi yang sudah berkeluarga, kuliah bukanlah menjadi sebuah halangan. Karena hal tersebut dapat dijadikan sebagai sarana belajar, bagaimana agar mampu mengelola rumah dan kuliah secara seimbang.

Semua ada konsekuensinya. Bagi yang belum mampu menyeimbangkan antara kegiatan kuliah dan rumah, alangkah baiknya niatnya disimpan terlebih dahulu, sampai sekiranya sudah mampu menyeimbangkan antara kegiatan kuliah dan rumah.

Tetapi sebenarnya hal tersebut dapat disiasati. Misalnya saja, jikalau memang masih berketetapan hati ingin meneruskan kuliah. Kuliah bisa dimulai setelah anaknya masuk PAUD/TK atau anak berumur sekitar 3 atau 4 tahun. Sehingga saat anak sudah bisa ditinggal, dan tidak dalam masa saat menyusui.

Memang, meskipun belajar tidak harus di dalam kelas. Karena kelas sesungguhnya ada di luar kelas itu sendiri. Dan sekolah yang sebenarnya ada di luar sekolah itu sendiri.

Lantas, apakah sia-sia gelar yang diperolehnya setelah lulus kuliah? Toh nanti akhirnya ibu rumah tangga juga akan balik ke Dapur, Sumur dan Kasur.

Meskipun belum saatnya, saya ingin mengucapkan selamat hari Kartini, wahai Kartini-Kartini Indonesia!

Ilustrasi by: pojokinspirasiushuluddin.blogspot.com

Ilustrasi by: pojokinspirasiushuluddin.blogspot.com

*) Dian Sastrowardoyo, Duta Samsung, Duta Tes HIV, Duta MTV EXIT, Duta Anti Perdagangan Manusia

Kudus, April 2015
Masluh Jamil

News Feed

Bangun Relasi dengan 3 Cara Ini!

Kita yang Dulu, Bukanlah yang Sekarang

Related posts
2 Responses to “Kartini Kuliah Setelah Menikah, Mengapa Tidak!”
  1. Anonymous
    # 17 April 2016 at 15:04

    keren tulisannya Mas Masluhj

  2. # 17 April 2016 at 15:05

    menuntut ilmu tak ada batasan usia..ya Mas

Leave a Reply