Kangen OVJ (Opera Van Java)

1404 Viewed

Dikala waktu senggang dan kebetulan berada di rumah. Pada jam-jam segini (pukul 8an malam) kami lebih sering ngumpul bareng bersama keluarga di depan layar kaca. Enak memang duduk dalam kehangatan keluarga sambil menyaksikan acara kesukaan kami semua. Benar-benar quality time. Tanpa harus pergi keluar, tanpa harus ke bioskop maupun lihat di layar tancep di tengah lapangan.

Atau saat kongkow, entah itu di pos ronda, ataupun angkruk (semacam pos ronda terbuat dari bambu sebagai tempat kumpul-kumpul anak muda di pedesaan) sebagai sarana untuk tempat nongkrong sekaligus sebagai acara MAKRAB (malam keakraban) antarpemuda di kampung juga disediakan televisi.

Terkadang di warung kopi, saat sedang enak-enaknya nyruput kopi, jam segini pun mantengin televisi.

Tatkala acara dimulai, seketika itu terdengar suara salah satu penikmat kopi. “Woi, banterno suarane“. (Woi, keraskan suara televisinya). Pintanya kepada sang pemilik warung.

Tak lain, dan tak bukan acara yang ditonton adalah OVJ (Opera Van Java). Acara komedi yang ditayangkan disalah satu stasiun televisi swasta, kini sudah tidak mengudara lagi sejak Agustus tahun 2014 kemarin. Mungkin karena kalah dan tergusur oleh acara YKS (Yuk Keep Smile).

Ilustrasi OVJ | gambar: blog.belalangtempur.com |

Ilustrasi OVJ | gambar: blog.belalangtempur.com |

Disadari atau tidak, OVJ adalah tayangan sekaligus hiburan murah bagi rakyat yang mendekatkan kami antarpemuda dan orang tua di daerah pedesaan. Saya yakin di pesisir juga begitu keadaannya. Ya, karena acara dikemas dengan gaya bercanda, dipadu dengan musik dan seni joget. Khas hiburan rakyat.

Tertawa bersama kawan-kawan di pos ronda, angkruk ataupun warung kopi kini sudah tidak seramai dulu saat Andre, Sule, Parto, Azis dan Nunung beraksi dan berhasil mengocok perut kami. Suara gelak tawa terdengar disana.

Aksi kocak Sule yang selalu ditunggu, kepiawaiannya menciptakan lagu yang ujug-ujug (bersifat dadakan), menjadikan OVJ lebih berwarna. Apalagi jika dipadukan dengan Andre. Pasangan yang serasi dalam berduet. Azis dan Nunung dan Parto seringkali menambah serunya acara. Kami pun serius mendengarkan dendangan lagu yang dilantunkan oleh mereka.

Namun sekarang, hanya tinggal kenangan. Hanya melalui youtube saya bisa mengobati kerinduan. Bernostalgia bersama lawakan khas mereka. Tertawa dengan plesetan serta guyonan mereka. Tanpa bisa bersendagurau lagi.

Meskipun banyak pihak yang kurang sreg, namun terlepas dari pro dan kontra seperti yang diutarakan oleh Detha. OVJ memang bukan dan tidak bisa disamakan seperti Si Bolang, Laptop Si Unyil dan Dunia Binatang yang lebih bersifat mendidik yang cocok buat anak-anak. Ya, namanya juga OVJ acara komedi. Setiap acara ditelevisi memang ada waktu dan batasan usia, tergantung kita para pemirsa.

Kalau saya pribadi boleh berpendapat, OVJ lebih baik daripada, “kalau tidak suka, tinggal pencet remote”. haha..  Karena para pemainnya, bermain tanpa teks dan benar-benar dituntut melakukan improvisasi.

Itu kalau saya, kalau kamu???

News Feed

Awal Tahun, Kutemukan “The Art of Communication”

Ketika KPK dan Polri di Warung Kopi

Related posts
4 Responses to “Kangen OVJ (Opera Van Java)”
  1. rofiah
    # 22 January 2016 at 22:30

    Kebanyakan sensor dialog…masa hnya ngucapin pesek…janda…gtu aja di sensor..itu kan bkn kata2 yg g sopan…klu kbnyakan sensor dialog..ya pastinya jd ga nyaman di tontonlah…mending ga usah dikasih dialog aja sekalian

    • masluhj
      # 25 January 2016 at 13:00

      Haha.. mungkin ada usulan dari pihak lain, sehingga harus disensor.
      Kalo ndak ada dialognya, nanti jadi pantomim donk..
      Makasih ya mbak, sudah mau mampir disini

  2. rofiah
    # 22 January 2016 at 22:31

    Jadi terkesan lebay..klu apa2 disensor

    • masluhj
      # 25 January 2016 at 13:01

      Ya begitulah mbak.

Leave a Reply