Catat Apa Yang Dilakukan, Dan Lakukan Apa Yang Dicatat

1291 Viewed

Ilustrasi, sumber: elektrikbank.blogspot.com

Sebagai manusia biasa, kita seringkali mengerjakan sesuatu tanpa didahului dengan perencanaan. Kita sering mengerjakan sesuatu berdasarkan apa yang ada dalam pikiran kita saat ini.

Sehingga hasil dari pekerjaan yang kita lakukan tidak dapat diketahui sejauh mana tingkat keberhasilan nya. Dan yang lebih parah lagi, tidak ada skala prioritas pekerjaan yang harus diselesaikan.

Akan lebih baik apabila kita membiasakan diri untuk selalu merencanakan apa yang akan kita lakukan. Biasanya berbentuk tulisan. Kita sering membuat rencana atau target yang menggebu-gebu di awal tahun.

Awal tahun yang berarti lembaran baru yang siap diisi dengan capaian-capaian atau target. Jika kita sering melihat rencana-rencana tersebut, maka secara tidak langsung kita akan mengetahui apa-apa yang sudah dicapai dan apa yang belum dicapai.

Alangkah baiknya, apabila kita terbiasa mencatat apa yang kita lakukan, dan melakukan apa yang kita catat.

Karena daya ingat setiap orang berbeda-beda. Sehingga jangan menambah beban daya ingat otak untuk menyimpan hal-hal yang sepele. Hal-hal yang bisa disiati dengan catatan.

Mencatat apa yang kita lakukan bisa tulis dengan bentuk tulisan apapun. Bisa tulisan berbentuk reportase, opini, maupun fiksi. Baik itu terpublish di website, blog, kompasiana, maupun cukup tertulis di buku catatan atau buku diary.

Sehingga menjadi memori tersendiri bagi diri kita. Setidaknya, kita bisa menelusuri lagi apa-apa yang telah kita lakukan, apa yang kita capai selama ini.

Dengan mencatat, apalagi dilengkapi dengan dokumentasi atau pun dengan foto akan mampu membangunkan kembali sel-sel memori otak kita yang tertidur selama ini.

Maka tepat apabila ada ungkapan yang mengatakan bahwa menulislah agar tidak lupa, menulis menunda kepikunan dini.

Well, saya setuju pendapat teman-teman di Kompasiana khususnya Om Jay, bahwa menulislah tiap hari. Maka keajaiban akan terjadi.

Disamping itu, ada juga gerakan ODOP, one day one post. ODOP, bagi saya pribadi memaknainya dengan setiap hari kita harus menulis, dan hasil tulisan tersebut tidak harus di posting. Cukup disimpan dibuku diary atau buku catatan. Kalau di Kompasiana, cukup di unpublish saja.

Akhirnya, memang kita harus mulai terbiasa menulis setiap hari. Apapun itu tulisannya. Minimal, simpan dalam secarik kertas.

Aptisi Wilayah VI Jateng Selenggarakan Pelatihan Pengisian ISO

10 Syarat Fraksi Demokrat soal Pilkada Langsung

Related posts
Your comment?
Leave a Reply