Buat Apa Belajar Internet

675 Viewed

Saat sang surya sudah mulai tenggelam menuju peraduannya, terselip sebuah janji yang harus aku penuhi. Ya, janji yang sebelumnya telah aku buat, sebut saja dengan om Jambrong. Teman sekaligus sosok yang aku jadikan panutan dalam dunia bisnis dan relationship. “Minggu sore saja ya Om”, pinta sekaligus janjiku. “Iya om ndak papa, lagian kalau pagi aku harus keliling dulu”, jawabnya balik dengan memanggilku Om juga.

Janji yang aku buat karena internet om Jambrong mengalami masalah. Selidik punya selidik, ternyata om Jambrong membeli HP anyar, yang akan dijadikan modem. Sebelumnya om Jambrong sudah pernah aku settingkan internet memakai telepon rumah. Lambat memang koneksinya, tetapi itupun sudah cukup buat om Jambrong untuk dijadikan sebagai sarana komunikasi dan mencari informasi.

Walaupun adzan Maghrib sudah mengumandang, akan tetapi aku belum bisa memenuhi janjiku kepadanya. Bahkan sampai adzan Isya’ selesai-pun aku belum bisa datang. Tak seperti biasanya, om Jambrong kog ndak sms atau telepon. Ada apa gerangan. Aku pun cuek aja, toh dia juga cuek. hehe…

Tepat pukul 19.30 WIB, akupun meluncur ke rumahnya yang berada di seberang perbatasan Kabupaten. Dengan kecepatan tinggi, aku laju kendaraanku. Salip-menyalip dengan sepeda motor, mobil, truk bahkan bis AKDP (antar kota dalam propinsi) harus aku hadapi. Sesampainya disana, om Jambrong belum juga menampakkan batang hidungnya. Hanya istrinya dan putrinya (yang sekarang sudah tumbuh menjadi remaja putri yang tambah cantik) saja yang nampak sedang menonton televisi.

Setelah dibukakan pintu rumah, aku pun masuk dan duduk-duduk seperti di rumah sendiri. Iya memang seperti rumah sendiri, karena aku sudah mereka anggap seperti keluarganya dan mereka pun sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri. Tak berapa lama, om Jambrong pun datang. “Maaf Om, baru pulang keliling cari barang”, alasan-nya baru sampai rumah.

Yang menarik di sela-sela saya melakukan installasi modem adalah om Jambrong cerita bahwa dia baru mengenal teknologi berkat belajar dari saya. Ya, tidak dipungkiri memang om Jambrong sering telepon aku. Tidak peduli itu jam 02.00 dinihari-pun ia telepon apabila ia menemui kesulitan.

Sebenarnya dia tidak ingin belajar internet. Akan tetapi karena tuntutan bisnis, mau tidak mau dia harus mempelajarinya. Kalau dulu kirim Invoice bisa dan cukup melalui fax, sedangkan beberapa tahun belakang harus lewat email.

“Buat apa facebook, email, ataupun google kalau tidak bisa membantu meningkatkan bisnis saya. Buat apa kalau tidak bisa buat kerja,” pesan om Jambrong. Benar juga pemikiran om Jambrong, bahwa itu semua adalah cuma alat, cuma sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan.

Internet hanyalah alat, media untuk mencapai tujuan (tujuan bisnis).

Tanpa internet-pun, dulu bisnis bisa berjalan. Apakah sekarang bisnis harus tergantung pada internet?

 

Kudus, 11/05/2014

News Feed
komitmen

Arti Dari Sebuah Komitmen, Dan Cara Menjaganya

prev-next.jpg

Warung Sosial, Memanusiakan Manusia

Related posts
Your comment?
Leave a Reply